HISTORIA - BELANGIRAN

 

Legenda Batu Abur Cerita Rakyat Belangiran 

Diterbitkan Pada 02/Juni/2019. 22.07
                          Oleh : BESA IMMANUELA YOSALINA



        Pernah mendengar cerita rakyat yang berjudul “Batu Abur” cerita rakyat ini berasal dari Belangiran, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Mungkin cerita ini sering didengar ditelinga kita. Semoga dengan adanya cerita ini bisa membawa pelajaran buat kita yang membacanya. Awal kisah disebuah desa, diadakanlah sebuah gawe (pesta) yang dilakukan oleh penduduk setempat, banyak orang yang datang dari desa satu ke desa tersebut termasuk Ne’ Minta dan cucunya juga hadir dalam pesta tersebut. Masyarakat yang bertemu di gawe tersebut saling menceritakan keadaan mereka masing-masing, menceritakan ladang mereka dan masih banyak lagi yang mereka ceritakan. Namun sayangnya mereka tidak memperdulikan kehadiran Ne’ Minta dan cucunya dalam gawe tersebut, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Saat cucu Ne’ Minta merasa bahwa perutnya lapar, dia meminta kepada penduduk yang hadir di pesta tersebut tetapi permintaannya tidak dihiraukan oleh mereka, bahkan seorang dari mereka membohongi dengan berpura-pura mengabulkan permintaan cucu Ne’ Minta.

Liciknya lagi, mereka mengajak cucu Ne’ Minta kedapur. Mereka bukan memberi babi yang diminta oleh cucu Ne’ Minta tetapi mereka memberikan jinton (karet) kepada cucu Ne’ Minta tersebut. Dengan hati yang bahagia akhirnya cucu Ne’ Minta keluar dari dapur sambil memgigit jinton tersebut. Anehnya, daging yang digigit tidak putus-putus dan juga aromanya tidak lah sedap. Melihat keanehan tersebut, akhirnya Ne’ Minta berkata kepada cucunya “apa yang kamu makan tersebut, itu bukan daging babi yang kamu minta, melainkan jinton. Jangan dimakan!"

Akibat peristiwa yang dialami oleh cucunya tersebut, Ne’ Minta merasa tersinggung dan marah besar ke semua penduduk yang hadir dalam gawe tersebut. Dia bermaksud hendak memberi pelajaran kepada orang kampung yang telah mempermainkan dan menghina dia dan cucunya. Saat Ne’ Minta pulang kerumahnya, dia mengambil kucing peliharaannya dan mendandani kucinganya tersebut layaknya manusia pada umunya. Dia memberika pakaian yang bagus dan juga menghiasi wajah kucing peliharaannya yang bergitu cantik. Pada saat itu, kucing tersebut dilepaskannya, dan saat orang-orang yang datang kepesta tersebut melihatnya, mereka tertawa terpingkal-pingkal, melihat penampilan kucing yang didandani selayaknya manusia.

Melihat kejadian tersebut, Ne’ Minta dan cucunya bergegas meninggalkan orang-orang yang berada di pesta. Saat pergi meninggalkan kampung tersebut Ne’ Minta dan cucunya pergi membawa 1 buah kelapa. Telur satu biji, dan bambu tumiang (bambu) untuk tongkatnya. Kucing peliharaan Ne’ Minta menari dengan penuh semangat dan antusias yang tinggi, bergitu juga orang-orang yang hadir di gawe tersebut juga tertawa terpingkal-pingkal. Saat kejadian tersebut berlangsung, tiba-tiba cuaca yang tadinya begitu cerah, sekarang berubah menjadi gelap. Orang kampung yang menertawai kucing itu tadi pun menjadi kaget terheran-heran melihat hari yang begitu gelap seperti malam tetapi kucing itupun menari terus tanpa menghiraukan keadaan alam yang terjadi. Di tengah-tengah keasikan  itu tiba-tiba datang angin dan petir menyambar berulang kali ditempat orang kampung mengadakan gawe. Tempat yang semula bagus, berubah menjadi tempat yang berantakan dan hancur berkeping-keping. Setelah angin dan petir sudah mulai reda, cuaca mulai berubah terang kembali sehingga terlihat yang disekelilingnya. Akibat tiupan angin topan dan sambaran petir tempat pesta dan kampung berubah semua menjadi batu.

Sepeninggalan Ne’ Minta dan cucunya tersebut, mereka mengetahui apa yang terjadi dengan kampung tersebut. Bunyi petir yang kuat dan angir yang bertiup kencang, dapat mereka rasakan di tempat mereka mengungsi. Sesampainya di sebuah kompokng, Ne’ minta lalu mentancapkan bambu tumiang (tongkatnya) ketanah dan menanam kelapa yang dibawanya. Telur yang dibawanya kemudian menetas dan menjadi ayam jantan. Ne’ Minta dan cucunya hidup tenang tanpa ada yang mengganggu dan menghina mereka.

Hingga saat ini bambu itu masih hidup dan menjadi rumpun bambu yang besar. Jika bambu itu dipotong maka akan mengeluarkan darah. Demikian pula tempat pesta yang merupakan bukti-bukti kejadian itu masih ada di daerah Batu Raya, yang menunjukkan tempat itu pernah dihuni oleh manusia. Banyak barang-barang yang pada zaman dahulu itu bisa dilihat di tempat ini, misalnya batu yang berbentuk peti, batu yang berbentuk WC (pajohatn) dan batu yang berbentuk tempat duduk (entong).

Sekarang tempat itu dikeramatkan, ada kalanya di tempat itu kita dapat melihat seorang ibu menyusui anaknya. Konon ada orang yang pernah melihat kucing Ne’ Minta dalam peti yang sudah menjadi batu itu. Mulai kejadian pada zaman dahulu hingga saat ini tempat itu diberi nama Batu Abur.

Sekian dan Terima Kasih

Komentar